Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah." (HR. Bukhari, no. 2942 dan Muslim, no. 2406, dari Sahl bin Sa'ad) "Keutamaan ilmu itu lebih baik dari amalan sunnah dan yang paling baik dari agama adalah sifat wara'." (Lihat Miftah Daar As-Sa'adah, 1
. Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu’anhu, suatu ketika dalam peperangan Khaibar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku akan memberikan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia mencintai Allah dan rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.” Sahl berkata Maka di malam harinya orang-orang pun membicarakan siapakah kira-kira di antara mereka yang akan diberikan bendera itu. Sahl berkata Ketika pagi harinya, orang-orang hadir dalam majelis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Masing-masing dari mereka sangat mengharapkan untuk menjadi orang yang diberikan bendera itu. Kemudian, Nabi bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?”. Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, dia sedang menderita sakit di kedua matanya.” Sahl berkata Mereka pun diperintahkan untuk menjemputnya. Kemudian, dia pun didatangkan lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya maka sembuhlah ia. Sampai-sampai seolah-olah tidak menderita sakit sama sekali sebelumnya. Maka beliau pun memberikan bendera itu kepadanya. Ali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah saya harus memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita?”. Beliau menjawab, “Berjalanlah dengan tenang, sampai kamu tiba di sekitar wilayah mereka. Lalu serulah mereka untuk masuk Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki onta-onta merah.” HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [8/31]Hadits yang agung ini mengandung pelajaran, antara lainKewajiban untuk berdakwah mengajak musuh orang kafir untuk masuk Islam sebelum dikobarkannya peperangan. Namun, apabila musuh tersebut sudah pernah didakwahi -tetapi menolak- maka hal itu tidak lagi wajib, namun dianjurkan lihat Syarh Muslim [8/30], al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 69Keislaman seseorang -orang kafir yang bersyahadat- tetap diterima meskipun dalam keadaan sedang terjadi peperangan lihat Syarh Muslim[8/31]Hukum di dunia dibangun di atas apa yang tampak secara lahir. Adapun hukum batinnya diserahkan kepada Allah lihat Syarh Muslim [8/31]Syarat sah keislaman adalah harus mengucapkan dua kalimat syahadat. Apabila dia bisu atau mengalami hambatan lain yang serupa maka cukup baginya mengisyaratkan terhadap syahadat itu lihat Syarh Muslim [8/31]Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan ilmu dan mendakwahkan petunjuk serta tuntunan-tuntunan yang baik lihat Syarh Muslim[8/30]Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdakwah mengajak manusia untuk memeluk agama Islam lihat Shahih Bukhari, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, hal. 617. Ini merupakan bantahan yang sangat jelas bagi kaum Liberal dan Pluralis yang menganggap bahwa Islam yang diserukan kepada manusia adalah Islam dengan pengertian kepasrahan kepada Tuhan semata’ tanpa ada kewajiban untuk masuk ke dalam agama yang disebut ini menunjukkan betapa besar keutamaan orang yang bisa mengajak kepada Islam kepada orang lain kemudian orang yang didakwahi tersebut menerimanya masuk Islam, meskipun jumlahnya hanya satu orang lihat Shahih Bukhari, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, hal. 630Hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat jelas pada diri Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallammemujinya dengan kata-kata, “Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.” lihat Shahih Bukhari, Kitab Fadha’il As-habin Nabi shallallahu alaihi wa sallam, hal. 775Wajibnya mencintai Ali bin Abi Thalib. Karena konsekuensi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kita juga harus mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-NyaAllah memiliki sifat mencintai lihat al-Jadid, hal. 69Mukjizat Nabi shallallahu alaihi wa sallam lihat al-Jadid, hal. 69Hadits ini menunjukkan betapa besar semangat para sahabat untuk memperoleh kebaikan agama mereka lihat al-Jadid, hal. 69. Karena mereka sangat ingin menjadi orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu mereka berharap untuk diberi bendera tersebut, bukan karena mereka menyimpan ambisi kekuasaan sebagaimana yang dituduhkan oleh kaum Syi’ah!Semestinya seorang pemimpin memeriksa keadaan rakyat atau orang yang dipimpinnya lihat al-Jadid, hal. 69Wajibnya beriman kepada takdir, tatkala bendera itu ternyata diberikan bukan kepada orang yang berusaha untuk bisa mendapatkannya lihatal-Jadid, hal. 69Seorang panglima perang hendaknya senantiasa bertindak dengan tenang, namun bukan berarti bersikap lemah dan tidak menunjukkan wibawa lihat al-Jadid, hal. 69Dua kalimat syahadat yang diucapkan dengan lisan tidak cukup jika tidak diiringi dengan amalam yang membuktikannya lihat al-Jadid, hal. 69Bolehnya bersumpah ketika menyampaikan suatu perkara untuk lebih menekankan atau ada kemaslahatan lainnya, meskipun ia tidak diminta bersumpah lihat al-Jadid, hal. 69Hendaknya seorang da’i dalam mengajak kepada objek dakwahnya, yang pertama kali diserukannya adalah agar mereka memahami dua kalimat syahadat lihat al-Jadid, hal. 70Diperlukannya bendera dalam peperanganSeorang pemimpin atau pun pemerintah hendaknya mengirim utusan orang-orang yang berdakwah kepada agama Allah -yaitu mendakwahkan tauhid dan Sunnah- sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para khulafa’ ar-rasyidin lihat Fath al-Majid, hal. 90Hadits ini menunjukkan pentingnya pendidikan bagi da’iHidayah taufik hanya di tangan AllahSeorang da’i tidak perlu merasa sempit dan sedih semata-mata karena pengikutnya sedikit. Namun, semestinya dia bersedih karena manusia tidak mau menerima kebenaran, bukan karena jumlah pengikutnya sedikitUntuk berperang itu memerlukan strategi dan kehati-hatianJihad dengan ilmu dakwah itu didahulukan daripada jihad dengan persenjataan perangKemenangan berasal dari Allah, bukan semata-mata hasil perjuangan pasukan ataupun kelihaian panglimanyaAjaran Islam adalah ajaran yang penuh dengan kasih sayang kepada manusia. Islam tidak mengenal aksi pembunuhan membabi buta sebagaimana yang dilakukan oleh para teroris atau pelaku bom bunuh diri yang mengklaim tindakkannya sebagai jihadDakwah itu harus dilakukan dengan mengikuti skala prioritas, mendahulukan perkara-perkara yang terpenting sebelum perkara penting lainnyaPeperangan bukanlah tujuan dalam Islam, namun perang adalah cara terakhir yang memang harus ditempuh untuk menegakkan kebenaran di atas muka bumi iniIslam sangat menghargai nyawa manusia, meskipun itu adalah nyawa orang-orang kafir. Bahkan, orang kafir yang tinggal di negeri Islam dan dilindungi oleh pemerintah ataupun orang kafir yang tinggal di sebuah negara yang terikat perjanjian damai dengan kaum muslimin adalah haram untuk ditumpahkan darahnyaHadits ini menunjukkan bahwa orang yang mulia adalah orang yang dicintai Allah. Sementara orang yang dicintai Allah adalah orang yang taat kepada Allah dan Rasul-NyaHadits ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa para sahabat yang lain selain Ali tidak dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, bahkan mereka adalah umat terbaik di atas muka bumi iniHadits ini menunjukkan semestinya seorang da’i bertanya/berkonsultasi kepada da’i lain yang lebih senior, terlebih lagi dalam urusan umat yang memiliki pengaruh luasPenulis Abu Mushlih Ari WahyudiArtikel
Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu’anhu, suatu ketika dalam peperangan Khaibar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku akan memberikan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia mencintai Allah dan rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.” Sahl berkata Maka di malam harinya orang-orang pun membicarakan siapakah kira-kira di antara mereka yang akan diberikan bendera itu. Sahl berkata Ketika pagi harinya, orang-orang hadir dalam majelis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Masing-masing dari mereka sangat mengharapkan untuk menjadi orang yang diberikan bendera itu. Kemudian, Nabi bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?”. Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, dia sedang menderita sakit di kedua matanya.” Sahl berkata Mereka pun diperintahkan untuk menjemputnya. Kemudian, dia pun didatangkan lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya maka sembuhlah ia. Sampai-sampai seolah-olah tidak menderita sakit sama sekali sebelumnya. Maka beliau pun memberikan bendera itu kepadanya. Ali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah saya harus memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita?”. Beliau menjawab, “Berjalanlah dengan tenang, sampai kamu tiba di sekitar wilayah mereka. Lalu serulah mereka untuk masuk Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki onta-onta merah.” HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [8/31] Daripada Sahl bin Sa’d Radhiyallaahu Anhu bahawa Rasulullaah Shollallaahu Alaihi wa Sallaam pernah bersabda “Maka demi Allah, sekiranya Allah memberi hidayah kepada seorang sahaja kerana da’wah melalui diri mu, itu adalah lebih baik bagi kamu daripada kamu memiliki unta-unta merah.” Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad Sejak hari pertama saya mendengar hadith di atas ini, timbul dalam diri saya satu cita-cita yaitu ingin mengajak paling tidak pun seorang non-muslim untuk memeluk agama Islam ini, yang dipilih oleh Allah menjadi Dien yang sempurna dan teragung di dunia. Tapi kenapa amalan tersebut dibandingkan dengan unta merah? Apa artinya hadis tersebut? Pada zaman Rasulullaah Shollallaahu Alaihi wa Sallaam, binatang peliharaan merupakan harta yang besar nilainya, terutama unta. Unta Merah adalah jenis unta yang terbaik dan termahal karena badannya yang tinggi besar. Jadi, untuk mendekatkan pemahaman para sahabat beliau, mengenai harta yang mahal , maka digunakan contoh yang paling mudah dan terdekat dengan mereka yaitu unta merah. Hingga saat ini, seekor unta merah saat ini bernilai antara SR 7 ribu hingga SR 20 ribu. Sekiranya ditukar kepada mata uang dolar Singapura antara SGD2600 hingga SGD7700, atau senilai Rp 24 – 70 juta . Rasulullaah Shollallaahu Alaihi wa Sallaam menyebutkan, sekiranya kita dapat mengajak seorang non-muslim memeluk Islam maka perbuatan itu adalah jauh lebih baik daripada kita memiliki beberapa ekor unta merah yang paling mahal harganya. Sebelum kita menjadi penyebab kepada hidayah orang lain, kita perlu memperbaiki diri kita dengan menimba ilmu kemudian mengamalkannya atas dua syarat utama iaitu ikhlas hanya untuk Allah dan menepati syariat yang dibawa Baginda Shollallaahu Alaihi wa Sallaam. Adapun secara tafsiran lainnya bisa dijelaskan dengan rincian seperti di bawah ini Kewajiban untuk berdakwah mengajak musuh orang kafir untuk masuk Islam sebelum dikobarkannya peperangan. Namun, apabila musuh tersebut sudah pernah didakwahi -tetapi menolak- maka hal itu tidak lagi wajib, namun dianjurkan lihat Syarh Muslim [8/30], al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 69 Keislaman seseorang -orang kafir yang bersyahadat- tetap diterima meskipun dalam keadaan sedang terjadi peperangan lihat Syarh Muslim [8/31] Hukum di dunia dibangun di atas apa yang tampak secara lahir. Adapun hukum batinnya diserahkan kepada Allah lihat Syarh Muslim [8/31] Syarat sah keislaman adalah harus mengucapkan dua kalimat syahadat. Apabila dia bisu atau mengalami hambatan lain yang serupa maka cukup baginya mengisyaratkan terhadap syahadat itu lihat Syarh Muslim [8/31] Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan ilmu dan mendakwahkan petunjuk serta tuntunan-tuntunan yang baik lihat Syarh Muslim [8/30] Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdakwah mengajak manusia untuk memeluk agama Islam lihat Shahih Bukhari, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, hal. 617. Ini merupakan bantahan yang sangat jelas bagi kaum Liberal dan Pluralis yang menganggap bahwa Islam yang diserukan kepada manusia adalah Islam dengan pengertian kepasrahan kepada Tuhan semata’ tanpa ada kewajiban untuk masuk ke dalam agama yang disebut Islam. Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan orang yang bisa mengajak kepada Islam kepada orang lain kemudian orang yang didakwahi tersebut menerimanya masuk Islam, meskipun jumlahnya hanya satu orang lihat Shahih Bukhari, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, hal. 630 Hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat jelas pada diri Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memujinya dengan kata-kata, “Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.” lihat Shahih Bukhari, Kitab Fadha’il As-habin Nabi shallallahu alaihi wa sallam, hal. 775 Wajibnya mencintai Ali bin Abi Thalib. Karena konsekuensi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kita juga harus mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya 10. Allah memiliki sifat mencintai lihat al-Jadid, hal. 69 11. Mukjizat Nabi shallallahu alaihi wa sallam lihat al-Jadid, hal. 69 12. Hadits ini menunjukkan betapa besar semangat para sahabat untuk memperoleh kebaikan agama mereka lihat al- Jadid, hal. 69. Karena mereka sangat ingin menjadi orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu mereka berharap untuk diberi bendera tersebut, bukan karena mereka menyimpan ambisi kekuasaan sebagaimana yang dituduhkan oleh kaum Syi’ah! 13. Semestinya seorang pemimpin memeriksa keadaan rakyat atau orang yang dipimpinnya lihat al-Jadid, hal. 69 14. Wajibnya beriman kepada takdir, tatkala bendera itu ternyata diberikan bukan kepada orang yang berusaha untuk bisa mendapatkannya lihat al-Jadid, hal. 69 15. Seorang panglima perang hendaknya senantiasa bertindak dengan tenang, namun bukan berarti bersikap lemah dan tidak menunjukkan wibawa lihat al-Jadid, hal. 69 16. Dua kalimat syahadat yang diucapkan dengan lisan tidak cukup jika tidak diiringi dengan amalam yang membuktikannya lihat al-Jadid, hal. 69 17. Bolehnya bersumpah ketika menyampaikan suatu perkara untuk lebih menekankan atau ada kemaslahatan lainnya, meskipun ia tidak diminta bersumpah lihat al-Jadid, hal. 69 18. Hendaknya seorang da’i dalam mengajak kepada objek dakwahnya, yang pertama kali diserukannya adalah agar mereka memahami dua kalimat syahadat lihat al-Jadid, hal. 70 19. Diperlukannya bendera dalam peperangan 20. Seorang pemimpin atau pun pemerintah hendaknya mengirim utusan orang-orang yang berdakwah kepada agama Allah -yaitu mendakwahkan tauhid dan Sunnah – sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para khulafa’ ar-rasyidin lihat Fath al-Majid, hal. 90 21. Hadits ini menunjukkan pentingnya pendidikan bagi da’i 22. Hidayah taufik hanya di tangan Allah 23. Seorang da’i tidak perlu merasa sempit dan sedih semata-mata karena pengikutnya sedikit. Namun, semestinya dia bersedih karena manusia tidak mau menerima kebenaran, bukan karena jumlah pengikutnya sedikit 24. Untuk berperang itu memerlukan strategi dan kehati-hatian 25. Jihad dengan ilmu dakwah itu didahulukan daripada jihad dengan persenjataan perang 26. Kemenangan berasal dari Allah, bukan semata-mata hasil perjuangan pasukan ataupun kelihaian panglimanya 27. Ajaran Islam adalah ajaran yang penuh dengan kasih sayang kepada manusia. Islam tidak mengenal aksi pembunuhan membabi buta sebagaimana yang dilakukan oleh para teroris atau pelaku bom bunuh diri yang mengklaim tindakkannya sebagai jihad 28. Dakwah itu harus dilakukan dengan mengikuti skala prioritas, mendahulukan perkara-perkara yang terpenting sebelum perkara penting lainnya 29. Peperangan bukanlah tujuan dalam Islam, namun perang adalah cara terakhir yang memang harus ditempuh untuk menegakkan kebenaran di atas muka bumi ini 30. Islam sangat menghargai nyawa manusia, meskipun itu adalah nyawa orang-orang kafir. Bahkan, orang kafir yang tinggal di negeri Islam dan dilindungi oleh pemerintah ataupun orang kafir yang tinggal di sebuah negara yang terikat perjanjian damai dengan kaum muslimin adalah haram untuk ditumpahkan darahnya 31. Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang mulia adalah orang yang dicintai Allah. Sementara orang yang dicintai Allah adalah orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya 32. Hadits ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa para sahabat yang lain selain Ali tidak dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, bahkan mereka adalah umat terbaik di atas muka bumi ini 33. Hadist ini menunjukkan semestinya seorang da’i bertanya/berkonsultasi kepada da’i lain yang lebih senior, terlebih lagi dalam urusan umat yang memiliki pengaruh luas Sumber – Penulis Abu Mushlih Ari Wahyudi, – Abu Raaihan
loading...Inilah amalan yang lebih baik daripada mendapatkan unta terbaik. Keutamaan mempelajari Al-Quran tidak sebanding dengan nilai unta terbaik yang harganya bisa mencapai ratusan juta. Foto/ist Di antara banyak amalan, ada satu amalan yang fadilahnya lebih baik dari mendapatkan tiga unta terbaik. Unta merah merupakan kendaraan terbaik dan harta yang sangat istemewa di zaman Rasulullah diketahui, 1 ekor unta rata-rata harganya Rp55 juta. Namun, untuk unta merah harganya bisa mencapai 200 Dinar. Sedangkan 1 Dinar setara Rp2,2 juta karena pada masa Rasulullah SAW, seekor kambing dihargai 1 Dinar. Nilai Rp2,2 juta itu adalah takaran di masa Nabi. Jika dikonversi di masa sekarang, 1 Dinar emas nilainya setara dengan 4 gram emas. Sedangkan 1 gram emas keluaran Antam hari ini dihargai - Rp1 Juta. Maka dikali 4 sama dengan Rp3,6 juta. Bisa dibayangkan 3 ekor unta terbaik nilainya bisa ratusan juta rupiah. Kembali ke topik, Rasulullah SAW mengabarkan bahwa ada satu amalan yang lebih baik dari perniagaan unta. Dalam Kitab Fadhoil Amal, Syaikh Zakariya Al-Kandahlawi mengetengahkan Hadis Nabi. Beliau bersabda عَن عُقبةً بنِ عَامِرٍ رَضيِ اللٌهٌ عَنهٌ قَالَ خَرَجَ عَلَينًا رَسُولٌ اللٌه صَلْي اللٌه عَلَيهِ وَسَلٌمَ وَنخَنُ فيِ الصفٌةِ فَقَالَ اَيٌكُم يُحبٌ اَن يَغدُ وَ كُلٌ يَومٍ اِلي بُطحَانَ اَواَلى الَعقَيقَ فَيَاٌتيِ بِنَاقَتَينِ كَومَاوَينِ فِي غَيِر اِثمٍ وَلآ قَظيعَةِ رَحَمٍ فَقُلنَا يَارَسُولَ اللٌهِ كُلٌنَا نُحِبٌ ذَالِكَ قَالَ اَفَلآ يَغدُو اَحَدُكُمَ اِلَى المسَجِدِ فَيَتَعَلَمَ اَوفَيَقَرٌاَ ايَتَينِ مِن كِتَابِ اللٌه خَيرٌلَه مِن نَاقَتَينِ وَثَلآثُ خَيرُلَه مِن ثَلآثٍ وَاَربَعُ خَيرُلَه من اربع ومن اعدادهن من الأبل .رواه مسلم وابو داوود.Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu ia menceritakan, "Rasulullah SAW datang menemui kami di shuffah, lalu beliau bertanya, 'Siapakah di antara kalian yang suka pergi setiap hari ke pasar Buth-han atau Aqiq lalu ia pulang dengan membawa dua ekor unta betina dari jenis terbaik tanpa melakukan satu dosa atau memutuskan tali silaturahmi?' Kami menjawab 'Ya Rasulullah, kami semua menyukai hal itu.' Rasululullah SAW bersabda "Mengapa salah seorang dari kalian tidak ke masjid lalu mempelajari atau membaca dua ayat Al-Qur'an padahal yang demikian itu lebih baik baginya dari pada dua ekor unta betina. Tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta betina. Dan begitu pula membaca empat ayat lebih baik baginya dari empat ekor unta betina. Dan seterusnya sejumlah ayat yang dibaca mendapat sejumlah yang sama dari unta-unta." HR Muslim dan Abu DawudShuffah adalah sebuah lantai khusus di Masjid Nabawi tempat orang-orang miskin Muhajirin tinggal. Mereka dikenal dengan sebutan Ahlush Shuffah orang-orang shuffah. Jumlah sahabat ahlush shuffah selalu berubah dari waktu ke waktu. Sedangkan Buth-han dan Aqiq adalah nama dua pasar perdagangan unta di Madinah. Orang Arab sangat menyukai unta, terutama unta betina yang berpunuk besar. Maksud tanpa melakukan suatu dosa adalah mendapatkan sesuatu dari orang lain tanpa usaha atau harta yang diperoleh melalui pemerasan, pencurian, atau merampas warisan sesama saudara. Karena itu, Rasulullah menyatakan dalam sabdanya, bahwa unta itu diperoleh tanpa bersusah payah sama sekali dan tanpa berbuat suatu dosa pun. Keutamaan Mempelajari dan Membaca 1 Ayat Al-Qur'anRasulullah SAW menyatakan bahwa mempelajari beberapa Ayat Al-Qur'an itu lebih baik daripada mendapatkan semua harta unta itu. Mempelajari Al-Qur'an tidak sebanding dengan seekor atau dua ekor unta. Bahkan dengan kerajaan seluas tujuh benua sekalipun. Karena semua itu pasti akan ditinggalkan. Sebaliknya, pahala membaca satu ayat Al-Qur'an akan bermanfaat untuk selama-lamanya. Dalam urusan keduniaan, kita dapat saksikan bahwa orang-orang yang diberi satu rupiah tanpa beban tanggung jawab apapun akan lebih senang daripada dipinjami seribu rupiah tetapi kelak akan diambil lagi. Hadits di atas intinya mengingatkan kita betapa besarnya pahala membaca Al-Qur'an. Bahkan 1 huruf dari Al-Qur'an diganjar 10 kebaikan sebagaimana sabda beliau"Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi Aliif satu huruf, Laam itu satu huruf, dan Miim itu satu huruf." HR at-Tirmidzi 2910 Baca Juga rhs
Tanya Marilah kita mengajak manusia kepada petunjuk walaupun dengan selembar kebaikan, فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً، خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ “Demi Allah, jikalau Allah memberi hidayah kepada satu orang dengan sebab dirimu, hal itu benar-benar lebih baik bagimu daripada unta-unta merah.” [Muttafaqun Alaihi] Mohon penjelasan dari kalimat di hadist ini. Jawab Hadits tersebut menunjukkan beberapa perkata, Pertama, keutamaan berdakwah mengajak orang kepada Islam dan jalan hidayah. Kedua, keutamaan seorang yang menjadi sebab sehingga orang lain mendapat hidayah. Ketiga, penetapan adanya sebab. Keempat, kebaikan itu bertingkat-tingkat, dan seseorang mendapatkannya sesuai dengan jenis amalannya. Kelima, unta-unta merah adalah lambang kekayaan orang Arab. Bila dikatakan lebih baik dari unta-unta merah artinya lebih baik dari dunia dan seisinya. Hadits tersebut menunjukkan bahwa keutamaan mengajak manusia adalah lebih baik dari dunia dan segala isinya. Keenam, tidak diterangkan bentuk mengajak kepada hidayah tersebut, karena cara berdakwah beraneka ragam. Menunjukkan boleh mendakwahi manusia dengan hal yang paling mengajaknya kepada hidayah, dengan dakwah yang sesuai dengan ilmu syar’i dan hikmah. Ketujuh, seorang mendapat keutamaan sehingga manusia mendapat hidayah boleh secara langsung, seperti mengajaknya dan mengajarinya, juga boleh secara tidak langsung, dengan menunjukkan seorang guru yang baik baginya, memberinya buku yang mengandung ilmu yang shahih, dan semisalnya. Wallâhu A’lam.
Hidayah mutlak hanyalah milik Allah subhanahu wa ta’ala, Ia memberikannya kepada siapa saja yang dikehendakinya dan mencegahnya dari siapa saja yang dikehendakinya, Allah berfirman مَن يَهدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلمُهتَدِ وَمَن يُضلِل فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيّا مُّرشِدا “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” QS. Al-Kahfi 17 Oleh karena itu kita selalu memohon hidayah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap raka’at dalam shalat kita, kita selalu membaca dalam surah Al-Fatihah ayat 6 ٱهدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلمُستَقِيمَ “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” QS. Al-Fatihah 6. Tapi Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan jalan-jalan dan perantara bagi hambanya untuk mendapatkan hidayah. Ia memilih dari hamba-hambanya para pemberi petunjuk bagi hamba-hambanya yang lain, sehingga mereka dapat menggiring orang lain menuju hidayah Allah subhanahu wa ta’ala dan jalan yang lurus. Mereka adalah para Rasul dan orang-orang yang berjalan dijalan dakwah bersama mereka. Alangkah indahnya jika kita termasuk kedalam golongan tersebut, berapa banyak pahala yang akan kita dapatkan jikalau kita menjadi sebab seseorang mendapat hidayah. Dalam Perang Khaibar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan bendera perang kepada Sayiduna Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, kemudian bersabda فَوَ اللهِ ، لأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرِ النَّعَمِ “Demi Allah, apabila Allah memberikan hidayah kepada seorang laki-laki dengan perantaraan usahamu, maka hal itu lebih baik daripada engkau memiliki unta-unta merah.” Muttafaq Alaih. Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam menjelaskan hadits ini, “yang dimaksud dengan humrun ni’am’ adalah Unta merah’, dan ia adalah harta paling berharga bagi orang arab. Dan mereka seringkali menjadikannya sebagai perumpamaan bagi sesuatu yang sangat berharga dan tidak ada yang lebih berharga darinya. Dan telah kami jelaskan sebelumnya bahwa penyamaan antara balasan baik di akhirat dengan sesuatu yang berharga didunia hanyalah sebagai bentuk pendekatan kepada benak kita agar lebih mudah kita pahami. Sedangkan hakekat yang sebenarnya, maka setitik kenikmatan di akhirat yang kekal lebih baik dari dunia dan seisinya.” Imam Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata dalam menjelaskan hadits ini, “jika orang alim dapat memperoleh pahala yang lebih baik dari onta merah apabila ia menjadi sebab seseorang mendapat hidayah, maka bagaimana dengan orang yang setiap harinya menjadi sebab hidayahnya banyak orang.” Apalagi di zaman sekarang segala sarana untuk berdakwah sudah tersedia, hanya saja terkadang kita enggan untuk berdakwah dan mencari-cari alasan untuk menghindar dari dakwah. Padahal kita tidak tahu, mungkin Allah membuka hati dan memberikan hidayah kepada orang lain melalui sedikit ilmu yang kita sampaikan tanpa kita sadari. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadits lain مَنْ دَعَا إِلَى هُدىً كَانَ لَهُ مِنَ الَأجْرِ مِثلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ ، لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئاً “Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikit pun.” HR. Muslim. Bahkan tidak sampai disitu, pahala orang yang berdakwah dan menyampaikan ilmu yang bermanfaat akan terus mngalir setelah ia meninggal, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara Sedekah jariah, Ilmu yang bermanfaat, dan Anak shalih yang mendoakan untuknya.” HR. Muslim. Semoga Allah ta’ala senantiasa memberi hidayah kepada kita, dan menjadikan kita sebagai sebab hidayah bagi orang lain. Penulis Arinal Haq Post Views 4,222
Oleh IMAM NUR SUHARNOOLEH IMAM NUR SUHARNO Dari Abdullah bin Amru, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda “Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat ....” HR Tirmidzi. Hadis di atas melandaskan kewajiban untuk berdakwah. Kewajiban tersebut berlaku bagi setiap Muslim laki-laki dan perempuan. Tidak ada alasan untuk tidak menunaikan kewajiban dakwah. Hal ini tampak dari perintah untuk menyampaikan dakwah meskipun satu ayat. Dan, rasanya, tidak ada seorang Muslim pun yang tidak menerima atau memahami satu ayat. Berdakwah bukan kewajiban yang diperintahkan oleh para ulama, kiai, atau oleh siapa pun. Akan tetapi merupakan perintah dari Allah SWT secara langsung kepada setiap individu Muslim. “Dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.” QS Luqman [31] 17. Dalam ayat lain, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” QS Ali Imran [3] 104. Maka, orang yang istiqamah menunaikan kewajiban dakwah disebut sebagai khairu umah umat terbaik. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” QS Ali Imran [3] 110. Dan, bagi pendakwah akan mendapatkan banyak keutamaan. Pertama, diberi pahala yang berlipat ganda. “Demi Allah, sesungguhnya Allah SWT memberikan hidayah kepada seseorang dengan dakwah-mu, maka itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad. Dalam hadis lain, “Wahai Ali, sesungguhnya Allah memberikan hidayah seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat mana pun yang matahari terbit di atasnya lebih baik dari dunia dan isinya.” HR Hakim. Kedua, semua makhluk mendoakan. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” HR Tirmidzi. Ketiga, pahala yang akan terus mengalir. “Barang siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, lalu perbuatan itu setelahnya dicontoh orang lain, maka akan dicatat untuknya pahala seperti pahala orang yang mencontohnya tanpa dikurangi sedikit pun pahala mereka yang mencontohnya. Dan barang siapa mencontohkan perbuatan buruk, lalu perbuatan itu dilakukan oleh orang lain, maka akan ditulis baginya dosa seperti dosa orang yang menirunya tanpa mengurangi mereka yang menirunya.” HR Muslim. Semoga Allah membimbing kita kaum Muslimin agar istiqamah menunaikan kewajiban dakwah dan meraih keutamaan yang dijanjikan. Amin.
lebih baik dari unta merah